Selasa, 27 Maret 2012

Aku, Jemari, dan Kisahku..

Begini..
Aku hanya ingin menulis apa yang ingin ku tulis  pagi ini..
Mencoba mengulang apa yang pernah hilang..
Walau dasarnya aku tak paham mengapa sekarang aku begini..

Dan intinya pun aku tak mengerti apa yang menyebabkan aku bagini..
Heeemmm..
Ku rasa.. semua terlalu sulit untuk aku ungkapkan..

Rabu, 17 Agustus 2011

Teruntuk si Merah Putih..

66 tahun berlalu
Mengira bahwa Negeri ini tlah lolos dari tangan kejam nun tajam

66 tahun berlalu
Layaknya Negeri ini bebas dari komplotan pencuri hak rakyat

66 tahun berlalu
Segalanya serasa tak lagi berpeluh semangat tuk saling membangun Negeri

Kamis, 14 April 2011

Orok..

Aku adalah gumpalan orok merah menjijikkan.
Mengembun bau anyir tak bernyawa.
Hidupku, hanyalah nadi lemah tak berdetak.
Aku adalah mati atau hidup.
Sembunyi pada darah merah menghitam.
Kental, busuk, serat akan kelam.
Aku tak tahu.. mati atau hidupkah aku.
Yang kutahu..
Aku hanyalah orok merah menjijikkan.

Senin, 11 April 2011

Si Payah..!!

Aku payah.
Benar-benar payah.
Sebenarnya apa maksud arah panah?
Hanya selalu membuat aku gundah.
Menuntun aku bak kepingan ayah.
Ah.. parah!!!

Aku tak mau diri luluh.
Hanya aku yang dituduh.
Padahal aku ada untuk menuduh.

Selasa, 24 November 2009

Kukisahkan PadaNya..

Wahai pencipta jiwa dan raga..
Rapuhnya insanMu seakan tak dapat diungkap dengan lara.
Rasa tak kembali membendung linang.
Mengubur jiwa yang lalu.
Rindu mungkin teraba namun tak terasa.
Seakan jiwa tersesat dalam dua arah memudar.
Hanya satu tanyaku tak terjawab.
Merelung dalam sayatan jiwa.
Tanya yang tak bernyawa, namun sanggup luapkan bara.

Selasa, 04 Agustus 2009

Tangan Itu..

Suatu pagi, aku berjalan kaki mencari arah.
Lantas, aku terjatuh di atas kerikil tajam.
Tumitku perih, tanganku basah akan darah.
Aku mengutuk diriku karena tak sanggup untuk berdiri.
Mataku berkaca-kaca, tak kuat menahan sakit.

Hingga, aku terkejut.
Seutas tangan terjulur ikhlas di hadapanku, seakan menunggu untuk kugapai dengan tanganku yang berlumur darah.

Jumat, 17 Juli 2009

Masih Kurasa..

SetiaMu dalam aku, meratakan jiwa yang tak kenal malu.
Berpura agar tegar namun tak mampu.
Padahal semua kusadari. Aku hidup karena dicintaiMu.
Aku tak mengerti lagi.. berapa arah yang harus kutapaki.
Bingung.. tak pernah sadar apa yang harus dan telah kulakukan.

CintaMu, masih selalu kurasakan.
Seakan tak pernah ada sesal telah menciptaku.
Syukur aku Kau cintai.

Rabu, 09 Juni 1993

(Autobiography) All about Me, Laili Nurilliya..

                  On 9 June 1993, I was born safely in Kotaanyar, a sub-district in Probolinggo, East Java. My parents, Suradi and Minarsih named me with a beautiful name. It was “Ela Nurul Qomariyah”. I grew in a happy family with my father as a teacher and my mother as a union officer.
                  At the age of five, I was diagnosed with typhus. My family was surprised as I was cheerful and hyperactive child. But then, my grandmother decided to change my name to be “Laili Nurilliya”. It was an ancient belief that a name could change one’s destiny.
LaLa's Latest Stories My Balcony