Selasa, 24 November 2009

Kukisahkan PadaNya..

Wahai pencipta jiwa dan raga..
Rapuhnya insanMu seakan tak dapat diungkap dengan lara.
Rasa tak kembali membendung linang.
Mengubur jiwa yang lalu.
Rindu mungkin teraba namun tak terasa.
Seakan jiwa tersesat dalam dua arah memudar.
Hanya satu tanyaku tak terjawab.
Merelung dalam sayatan jiwa.
Tanya yang tak bernyawa, namun sanggup luapkan bara.


Wahai pemilik lara dan tawa..
Satu langkah yang kupilih ini, ukirkan jiwa lain pada raga.
Jiwa yang -pun- tak sengaja hapuskan arti ‘aku’.
Yang menjalar menjadi bagian utuh dari jutaan sel tubuhku.
Aku mengingkari janji mulia atas nama keterbatasan yang semu.
Raga mencoba tuk lepas, namun urung.
Sempat kubenci jiwa, namun lenyap atas namaMu.
Andai semua insan tau.. aku tak lagi yang dulu..


Wahai Raja dalam jiwa..
Raut luapkan malu.
Malu akan jurang keraguan.
Ingin kurampungkan kisah-kisahku.
Namun mereka masih dalam tepi putih tak berujung.
Terkadang memudar, karna mata tak sanggup bendung linang.
Terkadang terhenti, karna tinta jiwa tak terisi.


Wahai Zat maha sempurna..
Ingatkan bila diri teteskan linang.





**Original text : (Sepulang sekolah)
Nurul  Jadid, 24 Nopember 2009

**Edited : (20.21  WIB)
Di kamar (Kotaanyar, Probolinggo), 9  Agustus  2012
Laili Nurilliya

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

LaLa's Latest Stories LaLa's Older Stories My Balcony