INDONESIAN CULTURE REQUIRES A PATENT TO OBTAIN INTERNATIONAL RECOGNITION
Sometimes, I get my mouth closed when it's important for me to talk . So let me just write about what I deeply feel, rather than I force my mouth to talk about it.
Kamis, 03 Februari 2011
Selasa, 24 November 2009
Kukisahkan PadaNya..
Wahai pencipta
jiwa dan raga..
Rapuhnya insanMu
seakan tak dapat diungkap dengan lara.
Rasa tak kembali
membendung linang.
Mengubur jiwa
yang lalu.
Rindu mungkin
teraba namun tak terasa.
Seakan jiwa
tersesat dalam dua arah memudar.
Hanya satu
tanyaku tak terjawab.
Merelung dalam
sayatan jiwa.
Tanya yang tak
bernyawa, namun sanggup luapkan bara.
Selasa, 04 Agustus 2009
Tangan Itu..
Lantas,
aku terjatuh di atas kerikil tajam.
Tumitku
perih, tanganku basah akan darah.
Aku
mengutuk diriku karena tak sanggup untuk berdiri.
Mataku
berkaca-kaca, tak kuat menahan sakit.
Hingga,
aku terkejut.
Seutas
tangan terjulur ikhlas di hadapanku, seakan menunggu untuk kugapai dengan
tanganku yang berlumur darah.
Jumat, 17 Juli 2009
Masih Kurasa..
Berpura
agar tegar namun tak mampu.
Padahal
semua kusadari. Aku hidup karena dicintaiMu.
Aku
tak mengerti lagi.. berapa arah yang harus kutapaki.
Bingung..
tak pernah sadar apa yang harus dan telah kulakukan.
CintaMu,
masih selalu kurasakan.
Seakan
tak pernah ada sesal telah menciptaku.
Syukur
aku Kau cintai.
Rabu, 09 Juni 1993
(Autobiography) All about Me, Laili Nurilliya..
On 9 June 1993, I was born
safely in Kotaanyar, a sub-district in Probolinggo, East Java. My parents,
Suradi and Minarsih named me with a beautiful name. It was “Ela Nurul
Qomariyah”. I grew in a happy family with my father as a teacher and my mother
as a union officer.
At the age of five, I was
diagnosed with typhus. My family was surprised as I was cheerful and
hyperactive child. But then, my grandmother decided to change my name to be “Laili
Nurilliya”. It was an ancient belief that a name could change one’s destiny.
Langganan:
Postingan (Atom)



